JURNAL PERCOBAAN 1
JURNAL ANALISA KUALITATIF UNSUR-UNSUR ZAT ORGANIK DAN PENENTUAN KELAS KELARUTAN
JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I
DISUSUN OLEH
NAMA : Dara Kumalasari
NIM : A1C118038
KELAS : REGULER A 2018
DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M,Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
PERCOBAAN I
I. Judul : Analisa Kualitatif Unsur-unsur Zat Organik dan Penentuan Kelas Kelarutan
II. Hari/Tanggal : Rabu, 30 januari 2020
III. Tujuan : Praktikum kali ini dilaksanakan untuk :
- Dapat memahami prinsip dasar pada analisa kualitatif
- Karbon, hidrogen, belerang, nitrogen, halogen adalah susunan tahapan kerja analisa dalam suatu senyawa organik dan untuk penentuan kelas kelarutannya
- Mencoba beberapa senyawa unknown untuk dianalisa
IV. Landasan teori
Dalam analisa kimia ada 2 cara analisa yaitu analisa kuantitatif dan analisa kualitatif. Analisa kuantitatif didefinisikan sebagai suatu proses analisa untuk mengidentifikasi kadar suatu zat atau larutan. Analisa kualitatif adalah proses analisa untuk mengidentifikasi unsur atau senyawa kimia yang terdapat pada sampel uji baik anorganik maupun organik (setiono, 1985).
Proses pengujian ion atau unsur dalam senyawa disebut sebagai analisa kualitatif. Pada senyawa organik reaksi redoks akan menjadi dasar analisa kualitatif senyawa tersebut. Sulfur ter reduksi menjadi H2S, karbon ter oksidasi menjadi CO2, nitrogen ter oksidasi menjadi N2O5 dan ter reduksi menjadi NH3, hidrogen ter oksidasi menjadi H2O, posfor ter reduksi menjadi PH3 serta ter oksidasi menjadi posfat (pudjaatmaka, 1992).
Analisis pada senyawa organik yang tidak ter identifikasi di artikan sebagai analisis organik kualitatif. Senyawa yang hanya tersusun dari hidrogen dan karbon serta bersifat polar disebut senyawa organik. Praktikum kali ini akan melakukan analisis untuk mengidentifikasi unsur fosfor, belerang, halogen, oksigen, hidrogen, karbon. Selain itu, juga menentukan jenis pelarut dan jumlah kelarutannya karena setiap senyawa organik mempunyai sifat/ciri-ciri yang berbeda satu sama lain (suminar, 1992).
Keberhasilan suatu analisa ditentukan faktor-faktor yang erat hubungannya dengan sifat khas senyawa tersebut atapun teknik/pola dari kerja analisa yang sitematis. Untuk analisa organik kualitatif akan lebih memfokuskan pada klasifiksi-klasifikasi (fungsi, sifat fisik, kelarutan, gugus fungsi) dengan mengidentifikasi sifat derivatnya dan tentunya menganalisis unsur tersebut (Tim Kimia Organik I, 2016).
Keberlangsungan hidup makhluk hidup sangat di tentukan oleh zat-zat ataupun senyawa-senyawa organik yang menyusun nya.Untuk mengungkapkan peran unsur serta zat organik harus melakukan mengidentifikasi suatu senyawa organik dan menentukan kelarutan nya. Dari identifikasi ini akan diketahui prediksi sifat kelarutan, rumus empiris dan rumus molekulnya. Dengan memahami teknik-teknik analisa ini praktikan akan berinisiatif untuk melakukan eksperimen sendiri serta menambah wawasan baru didunia eksperimen. Kecenderungan senyawa dapat beraksi dengan senyawa lain diketahui dengan tingkat kelarutannya.
V. Alat dan Bahan
1. Alat
• Pipet tetes
• Pemanas bunsen
• Tabung reaksi besar
• Sumbat dan pipa pengalir gas
• Tabung reaksi kecil
• Cawan porselen
• Tabung reaksi pyrex
• Tabung pengalir gas
• Gelas kimia 100 mL
2. Bahan
• Larutan NaOH 5 %
• 10 mL larutan Ca(OH)2
• Air suling
• CaO
• CCl4
• Kawat tembaga
• Logam Na
• Larutan AgNO3
• HNO3 encer
• Cuplikan mengandung halogen, S dan N
• Asam asetat
• Spirtus
• Larutan Na-nitroprosida
• Larutan KF 10%
• Larutan NaOH 10%
• Larutan FeSO4
• Larutan FeCl3
• Larutan L
• Pb-asetat 10%
• Pelarut eter
• Kertas saring
• Asam sulfat encer
• Zat padat dan zat cair
• Larutan H2SO4 encer
• Serbuk CuO kering
VI. Prosedur Kerja
6.1 Analisa Unsur
6.1.1 Karbon dan Hidrogen
Dimasukkan 1-2 gram serbuk CuO kering kedalam cawan poselin keringkan diatas pemanas bunsen
Menggunakan sudip campurkan dengan hati-hati sejumlah gula (± 1:10 dengan jumlah CuO), saat CuO masih panas
Larutan dipindahkan ke tabung reaksi pyrex yang dilengkapi sumbat dan pipa pengalir gas
Tabung pengalir gas disusun sehingga gas yang mengalir masuk ke dalam tabung yang berisi 10 mL larutan Ca(OH)2
Campuran dipanaskan, dan amati hasilnya
Di perhatikan air yang mengembun di tabung reaksi bagian atasnya.
6.1.2 Halogen
Tes Beilstein
Kawat tembaga dipanaskan sampi kemerahan
Dinginkan , lalu ditetesi CCl4
Dipijarkan kembali
Diamati warna nyala oleh uap Cu-halida
Tes CaO
Dipanaskan CaO bebas halogen dalam tabung reaksi besar sampai suhu tinggi
Ditambahkan 2 tetes CCl4, dinginkan
Didihkan kembali dengan air suling 5-10 ml
Dipindahkan ke gelas kimia 100 ml
Ditambah larutan HNO3 encer
Jika larutan jernih tak didapati , saring dengan kertas saring biasa
Ditambahkan AgNO3 encer 5-10 %
Lalu amati apa yang terjadi
6.1.3 Metoda leburan dengan Natrium
Pada lubang kecil ditempatkan tabung reaksi kecil dengan ukuran 50x8 mm pada asbes sebagai pemegang
Dimasukkan 1 biji logam Na
Dipanaskan sampai meleleh dan terdapat uap Na dibagian bawah tabung
Hentikan nyala api lalu ditambahkan cuplikan ( mengandung halogen, S, N )
Dipijarkan kembali tabung hingga membara
Dimasukkan tabung kedalam gelas kimia 100 ml yang didalamnya berisi 15 ml air suling
Tabung akan pecah, karena sisa sedikit Na bereaksi dengan air
Jika reaksi sudah mulai stabil hancurkan sisa tabung dalam gelas gimia tadi
Didihkan diatas api lalu saring dengan kertas saring biasa
Lalu gunakan larutan ini untuk keperluan tes-tes berikutnya:
a. Belerang
Dengan asam asetat 3 mL larutan L diasamkan
Gas yang dihasilkan dengan kertas saring basah yang sudah ditetesi Pb-asetat 10% dididihkan diamati yang terjadi
Bagian larutan L lainnya, tambahkan 1-2 tetes larutan Na-nitroprosida
Diamati warna larutan
b. Nitrogen
Ditambahkan 5 tetes larutan FeSO4 yang masih baru kedalam 3 mL larutan L, larutan FeCl3 1 tetes dan larutan KF 10% 5 tetes
1-2 mL larutan NaOH 10% ditambahkan sampai bersifat basa, lalu didihkan (jangan terjadi bumping)
(jika belerang tidak ada) dinginkan dan asamkan dengan asam sulfat encer
Endapan biru berlin menandakan adanya nitrogen (didiamkan beberapa saat baru muncul)
(jika belerang ada) tambahkan pada larutan L, 5 mL tetes FeSO4 masih baru, lalu 1-2 mL larutan NaOH 105 sampai basa
Dipanaskan sampai mendidih
Saring endapan FeS, diasamkan dengan larutan H2SO4 encer
Ditambahkan pada larutan L, 5 mL tetes FeSO4 masih baru, lalu 1-2 mL larutan NaOH sampai basa
Dipanaskan sampaikan mendidih dan Saring endapan FeS
Dengan larutan H2SO4 encer (10-20%) dilakukan pengasaman
untuk mendapatkan endapan biru berlin ditambahkan 5 tetes larutan KF 10% dan 1 tetes larutan FeCl3
c. Halogen
3 mL larutan L diasamkan dengan larutan HNO3 encer
(jika N dan S ada) 5-10 menit didihkan
Tambahkan 5 ml larutan AgNO3 encer 5-10%
Kemudian didihkan kembali beberapa saat
Jika terdapat endapan yang bnyak berarti terdapat halogen
jika sedikit mungkin itu hanya pengotor dalam pereaksi
6.2 Penentuan Kelas Kelarutan
5 dari senyawa yang di siapkan ditentukan kelas kelarutannya
a) Kelarutan dalam air
± 0,1 gr zat padat atau 3 tetes zat cair dimasukkan kedalam tabung reaksi besar, lalu tambahkan 3 mL air suling, kocok kuat-kuat sampai larutan jernih
Jika jernih berarti larut dalam air (+), larutan keruh berarti tak larut dalam (-)
Dilanjutkan tes kearutan dengan pelarut lainnya ( eter, NaOH , HCl dll)
b) Kelarutan dalam eter
Pada tabung reaksi besar dimasukkan ±0,1 gr zat padat atau 3 tetes zat cair, tambahkan 3 mL air suling, kocok kuat-kuat
Larutan jernih, berarti larut dalam air (+), larutan keruh berarti tak larut dalam (-).
Kemudian 3 mL pelarut eter ditambahkan , bila jernih artinya (+) larut dalam eter atau sebaliknya
c) Kelarutan dalam NaOH 5%
3 mL larutan NaOH 5% ditambahkan kedalam tabung reaksi besar
berarti (+) jika larutan jernih, biasanya disertai perubahan warna dan berarti (-) jika larutan keruh. Jika keraguan, saring campuran dan filtratnya
dinetralkan dengan asam HCl encer
lanjutkan dengan kelarutan berikutnya
d) Kelarutan dalam NaHCO3 5%
3 mL larutan NaHCO3 5% ditambahkan
Bia timbul gas CO2 berarti + jika sebalik nya berarti -
Ditambahkan 3 mL larutan HCl 5% kocok dan amati.
e) Kelarutan dalam HCl
Sama seperti percobaan sebelumnya jika ada keraguan, campuran disaring dan filtratnya dinetralkan dengan asam HCl encer
5 mL larutan HCl 5% ditambahkan lalu kocok dan amati
Larutan jernih (+), bila keruh (-) jika meragukan campuran disaring lalu ke dalam filtrat netralkan dengan larutan NaOH encer
f) Kelarutan dalam H2SO4 pekat
Sama sepeti percobaan sebelumnya
Jika ada keraguan saring campuran dan filtratnya dinetralkan dengan asam HCl encer
Ditambahkan asam sulfat pekat 3 ml
Jernih dan timbul panas ataupun ada perubahan warna berarti (+)
g) Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Sama seperti percobaan sebelumnya
Dengan menambahkan H3PO4 pekat
Jika jernih (+)
Kemudian dibuat tabel /diagram hasil pengamatan untuk kelarutan
Langkah akhir tarik sebuah kesimpulan
Video referensi youtube
permasalahan yang muncul saat menonton video referensi youtube :
1. Kenapa logam natrium bereaksi sangat cepat ketika berkontak langsung dengan air?
2. Sepengetahuan saya logam natrium memiliki sifat fisik bewarna silver. Apa penyebab warna luar logam natrium yang digunakan bewarna kuning? Jelaskan secara ringkas.
3. Mengapa harus di tetesi indikator ke dalam aquades sebelum dimasukkan logam natrium?



Perkenalkan nama saya septia misca (A1C118005) saya akan menjawab soal nomor 2. Warna logam Nama menjadi kuning pada percobaan tersebut adalah dikarenakan logam Nama tersebut sudah lama diruang terbuka . Sebenarnya warna logam Nama itu sendiri adalah silver.. pada video juga dijelaskan bahwa jika logam Na dalam keadaan bersih maka warna nya adalah perak bersih . Berarti dapat ditarik kesimpulan warna kuning yang melapisi logam adalah hasil reaksi logam dan udara bebas. Terimakasih
BalasHapusSaya Marta Febryza Manalu Rambe dengan NIM A1C118037 akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 1. Karena logam Na jika direaksikan dengan air akan menghasilkan reaksi panas dan H2. Reaksi panas ini lebih cepat dibanding reaksi logam yang lain, dimana reaksi panas ini mampu untuk melelehkan logam Natrium . H2 yang dihasilkan akan terbakar secara otomatis. Peristiwa saat H2 terbakar tersebutlah yang akan menyebabkan ledakan.
BalasHapusAssalamualaikum,
BalasHapusNama saya Cici Indah Septiana, NIM A1C118069, kelas Reguler A. Hallo Dara, saya akan mencoba menjawab pertanyaan diatas. Ditetesi indikator karena dari reaksi logam natrium dengan air akan menghasilkan NaOH yang bersifat basa, sehingga akan bereaksi dengan indikator dan akan menciptakan warna merah jambu keunguan. Jadi, indikator ditetesi agar membantu terjadinya proses reaksi dan untuk menciptakan perubahan warna pada larutan.
Terima Kasih. Wassalamualaikum