laporan praktikum II


VIII. DATA PENGAMATAN

8.1  Kalibrasi termometer
No
Perlakuan
Pengamatan
1
Air dan batu es dicampur hingga 2/5 bagian Erlenmeyer
Suhu air mulai turun dan es mulai bercampur dengan air
2
Ujung thermometer dimasukkan hingga menyentuh campuran kemudian mulut Erlenmeyer disumbat menggunakan sterefoam
Suhu konstan 0
3
Percobaan selanjutnya, Erlenmeyer diisi hingga 2/5 bagian nya dengan aquades kemudian ujung thermometer diletakkan 1cm diatas permukaan aquades lalu Erlenmeyer dipanaskan menggunakan Bunsen
Suhu konstan  100

8.2  Penentuan titik leleh zat murni
No
Sampel
Temperatur ()
Manual
MPA
T1
T2
T1
T2
1
Naftalen
78
84
85
100
2
Glukosa
120
140
160,72
180
3
Beta-naftol
105
115
110
115
4
Asam benzoate
98  
140
115
120
5
Maltosa
105
107
90
102

8.3  Penentuan titik leleh zat campuran
No
Campuran sampel
Perbandingan temperatur ()
1:1
1:3
3:1
1
Naftalen-Glukosa
100-148
148-155
130-146
2
Glukosa-Betanaftol
130-140
146-150
138-149
3
Beta-naftol-Asam Benzoat
88-92
90-103
85-120
4
Asam benzoat-Maltosa
110-120
100-155
97-135
5
Maltosa-Naftalen
120-122
110-114
113-115

IX. PEMBAHASAN

9.1  Kalibrasi termometer
Untuk melakukan percobaan ini praktikan harus melakukan kalibrasi thermometer terlebih dahulu agar hasil yang didapatkan akurat dan benar. Untuk mengkalibrasi praktikan bisa menggunakan cara untuk tes suhu rendah dengan campuran serbuk es dan aquades dan untuk suhu tinggi menggunakan aquades yang dipanaskan menggunakan Bunsen. Dimana batas atasnya dilakukan dengan pemanasan atau air mendidih dan suhunya mencapai 100 sedangkan batas bawahnya menggunakan bubuk es dan suhunya 0 . Setelah aquades dan serbuk es dimasukkan kita dianjurkan mengocok erlenmeyer agar suhu merata. Kemudian setelah es mulai mencair karena kelarutan es dan air yang berbeda. Termometer dimasukkan kedalam erlenmeyer sampai ujungnya menyentuh permukaan air, kemudian mulut Erlenmeyer disumbat dengan sterefoam bertujuan agar suhu dari udara luar tidak akan mempengaruhi sampel yang akan diukur suhunya dan didapatkan batas bawah sampel adalah 0.
Selanjutnya menguji batas atas termometer, dengan memanaskan aquades 2/5 bagian dari Erlenmeyer menggunakan Bunsen dan didapatkan suhu 100. Dari perlakuan-perlakuan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa thermometer yang digunakan dalam kondisi yang baik.

Sebagai alat ukur suhu diberbagai kondisi thermometer perlu dikalibrasi sebelum digunakan. Ketepatan kalibrasi menentukan hasil praktikum yang dilakukan oleh praktikan. Karena itu praktikan harus melakukan kalibrasi dengan langkah-langkah yang tepat dan akurat sesuai prosedur baku dalam kalibrasi thermometer. Kemudian, praktikan harus memperhatikan apakah thermometer layak fungsi atau memiliki kerusakan  juga memikirkan cara penggunaan  ataupun penyimpanan thermometer yang tepat agar thermometer tidak rusak. http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/

9.2   Penentuan titik leleh
Untuk percobaan titik leleh zat murni praktikan memperoleh Naftalen 78 -84 (T1-T2 Manual) 85-100 (T1-T2 MPA) Glukosa 120 -140 (T1-T2 Manual) 160,72-180 (T1-T2 MPA) Beta-naftol 105 -115 (T1-T2 Manual) 110-115 (T1-T2 MPA) Asam benzoate 98  -140 (T1-T2 Manual) 115-120 (T1-T2 MPA) Maltosa 105 -107 (T1-T2 Manual) 90 -102 (T1-T2 MPA). Percobaan diawali dengan mematahkan ujung pipa kapiler kemudian diisi dengan sampel yang akan diuji lalu dimampatkan menggunakan stick/dipukul-pukul ujung yang tertutup kemudian ujung pipa kapiler yang terbuka dibakar agar tidak terdapat udara. Lalu diikat pada thermometer dan dibakar dengan pelarut yang sesuai dengan sampel. Setelah semua sampel leleh dalam pipa kapiler dicatat suhunya.

Untuk percobaan titik leleh campuran praktikan mendapatkan hasil Naftalen-Glukosa 100-148 ℃(1:1) 148-155 ℃(1:3) 130-146 ℃(3:1) Glukosa-Betanaftol 130-140 ℃(1:1) 146-150 ℃(1:3) 138-149 ℃(3:1) Beta-naftol-Asam Benzoat 88-92 ℃(1:1) 90-103 ℃(1:3) 85-120 ℃(3:1) Asam benzoat-Maltosa 110-120 ℃(1:1)   100-155 ℃(1:3) 97-135 ℃(3:1) Maltosa-Naftalen 120-122 ℃(1:1) 110-114 ℃(1:3) 113-115 ℃(3:1). Sama langkah yang dilakukan dengan titik leleh zat murni namun bedanya sampel yang diisi ada 2 jenis dan dengan perbandingan yang berbeda dgn 3x untuk 2 campuran sampel.

X. MANFAAT
            Praktikan dapat menentukan thermometer yang baik digunakan untuk percobaan setelah melkukan kalibrasi. Dan praktikan mengetahui cara menentukan titik leleh suatu sampel murni serta sampel campuran. Serta mengetahui cara penggunaan MPA(melting point apparatus).

XI. KESIMPULAN
1.       Untuk menentukan thermometer yang baik digunakan dapat menggunakan kalibrasi.
2.       Perbedaan titik leleh suatu senyawa murni dan tidak murni dapat dilihat dari suhu tepat dimana senyawa tersebut meleleh.
3.       Senyawa tidak murni cenderung lebih tinggi suhunya sedangkan senyawa murni adalah sebaliknya.
4.       MPA(melting point apparatus) dapat digunakan sebagai alat untuk menentukan titik leleh

XII. PERTANYAAN PASCA
1.       Kenapa pemanas yang digunakan untuk menentukan titik leleh glukosa adalah minyak ?
2.       Saat dilakukan pembakaran kenapa pipa kapiler harus terbebas dari udara ?
3.       Bagaimana perbandingan titik leleh glukosa dan maltosa ?

XII.   DAFTAR PUSTAKA
Sandeep, dkk. 2016. A Review on the Determination of Melting Point Measurement System. International Journal of Advanced Research in Electrical, Electronics and Instrumentation Engineering. ISSN : 2320 – 3765.
Surono, dkk. 2016. Pengantar Keamanan Pangan untuk Industri Pangan. I ed. Yogykarta: CV Budi Utama
Susanti. 2014. Pengembangan sistem kalibrasi termometer radiasi 250oC-1000oC. Vol 3.
Tim kimia organik I. 2016. Penuntun praktikum kimia organik I. UNJA, Jambi.

XIII. LAMPIRAN

Lampiran video

Lampiran foto



erlenmeyer + es batu

pipa kapiler

erlenmeyer

glukosa

gelas kimia

Komentar

  1. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Perkenalkan nama saya Dea Ristria Ariani dengan NIM:A1C118003. Saya akan mencoba membantu menjawab permasalahan nomor 1.penggunaan minyak sebagai pelarut dalam penentuan titik leleh glukosa berdasarkan dari titik leleh glukosa yang lebih dari 100 derajat celcius. Sehingga pelarut yang kita gunakan yaitu minyak bukan air.
    Terimakasih semoga membantu

    BalasHapus
  2. nama saya ulul azmi nim 068 akan mencoba menjawab pertanyaan no 3. yaitu perbandingan titik leleh glukosa dan maltosa dimana titik leleh glukosa lebih tinggi dari pada maltosa sehingga perlu pemanasan dengan minyak pada praktikum yang dikarenakan titik leleh dari glukosa dan maltosa itu lebih dari 100 derajat celciua sehingga perbandinggannya yaitu titik leleh glukosa lebih tinggi dari pada maltosa

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum, hallo dara, saya dwi kartini nim A1C118058 akan mencoba menjawab pertanyaan dara nmer 2. Karena jika pipa terbuka dan udara akan bebas masuk, akan memperlambat proses pelelehan pada suatu senyawa terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer